"Dari lima saluran yang ada, tiga di antaranya yang paling penting, yakni drainase atau anak sungai Pemuatan, sungai samping Masjid Jami, dan sungai Mentawa. Namun karena pagu dana yang digelontorkan hanya sebesar Rp22 miliar, jadi yang prioritas tahun depan adalah drainase di samping Masjid Jami," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kotawaringin Timur, H Machmoer di Sampit, Sabtu.
Pemerintah daerah sangat ingin melakukan normalisasi seluruh drainase besar atau anak sungai di Sampit dengan pembiayaan sistem multiyears atau tahun jamak. Namun dana yang dibutuhkan sangat besar, yakni ratusan miliar, membuat pemerintah daerah memilih melakukan skala prioritas karena keterbatasan anggaran. Drainase besar atau anak sungai besar samping Masjid Jami akan dijadikan percontohan penanggulangan banjir.
Saluran air tersebut bisa mengalirkan air dari beberapa muara, seperti dari Jalan Pangeran Antasari, MT Haryono, DI Pandjaitan, Achmad Yani, HM Arsyad dan sekitarnya di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Apalagi di kawasan itu terdapat tempat pelayanan publik yaitu rumah sakit, sekolah, sarana perdagangan dan perumahan.
Kendala yang dihadapi saat ini adalah banyaknya tumpukan sampah, serta penyempitan sungai karena bangunan penduduk yang sudah tidak sesuai aturan. Yakni, membangun di atas badan sungai padahal melanggar aturan
"Langkah yang pertama adalah mengidentifikasi berapa jumlah rumah penduduk yang kena, melalui camat dan satuan organisasi perangkat daerah terkait. Setelah pendataan, kami akan melakukan sosialisasi, nanti akan dicarikan titik temu, dengan catatan tidak ada ganti rugi, namun untuk tali asih bisa dibicarakan," jelas Machmoer.
Machmoer menambahkan, pada 2018 nanti ada perkerjaan penanggulangan banjir dengan penataan drainase yang didanai dengan sistem tahun jamak. Pekerjaan tersebut akan pada enam bulan sebelum berakhirnya masa jabatan Bupati H Supian Hadi dan Wakil Bupati HM Taufiq Mukri pada 2021 nanti.
Penanganan dilakukan dengan mengalirkan air ke tempat yang lebih rendah yaitu permukaan sungai. Namun Machmoer mengakui kondisi dataran kota Sampit hampir rata dengan permukaan sungai, terlebih saat sungai air pasang, sehingga mudah tergenang banjir saat bersamaan hujan deras.
Penanganan jangka pendek dilakukan mengantisipasi beberapa saluran yang sudah dilakukan pemeliharaan, baik secara manual maupun mekanis melalui pembersihan. Namun itu hanya bisa meminimalisir waktu genangan banjir, yakni dari empat jam menjadi tiga atau dua jam surut setelah hujan.
Machmoer menegaskan, pengendalian banjir dilakukan sekaligus untuk mempercantik kota. Namun sangat disayangkan, saat ini partisipasi masyarakat untuk menjaga lingkungan agar bebas sampah, belum maksimal.
Kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk membersihkan saluran air secara rutin, sangat membangun penanggulangan banjir di Sampit. Pemerintah daerah berharap Sampit akan bebas dari banjir.
0 Response to "Atasi Banjir, Pemkab Kotim Lakukan Normalisasi Drainase"
Posting Komentar