"Kami sedang berusaha mencari formulasi yang baik agar menghilangkan masalah tidak menimbulkan masalah. Paling lambat akhir November ini kami akan menggelar rapat koordinasi dengan FKPD," kata Wakil Bupati Kotawaringin Timur, HM Taufiq Mukri di Sampit, Jumat.
Sesuai perintah pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur akan menutup lokalisasi di daerah itu. Namun ini perlu dipersiapkan secara matang agar tidak menimbulkan masalah baru.
Selain pekerja seks komersial, banyak orang yang menggantungkan hidup di lokalisasi. Nasib mereka juga harus dipikirkan agar tidak sampai jadi masalah.
Selain lokalisasi, pemerintah daerah juga akan menertibkan prostitusi terselubung. Warung-warung yang diduga dijadikan tempat transaksi prostitusi, kembali bermunculan sehingga meresahkan masyarakat.
"Kita diberi batas waktu oleh Menteri Sosial bahwa 2017 nanti lokalisasi atau tempat prostitusi ini harus dihapus. Kami akan taat kepada pemerintah pusat untuk menghapuskan lokalisasi pada 2017. Begitu juga prostitusi terselubung, kami juga sudah ada datanya," kata Taufiq.
Hasil pendataan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, saat ini ada 269 pekerja seks komersial yang menghuni tiga lokalisasi di Kotawaringin Timur. Mereka berasal dari sejumlah daerah di Kalimantan, Jawa dan Jakarta.
Sebaran tiga lokalisasi di Kotawaringin Timur yakni di kilometer 12 Jalan Jenderal Sudirman Kelurahan Pasir Putih Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, lokalisasi di Kecamatan Parenggean dan lokalisasi Tangar Kecamatan Mentaya Hulu.
Lokalisasi terbesar yakni Jalan Jenderal Sudirman Kelurahan Pasir Putih yang lokasinya terbilang dekat dengan Sampit, Ibu Kota Kabupaten Kotim, yakni hanya 12 kilometer.
Saat lokalisasi ditutup, seluruh pekerja seks komersial rencananya akan dipulangkan ke kampung halaman masing-masing. Pemulangan dilakukan bertahap menyesuaikan kemampuan anggaran.
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2016
0 Response to "Pemkab Ini Masih Cari Formulasi Yang Baik Terkait Penutupan Lokalisasi"
Posting Komentar